Sabtu, 21 November 2015

Puisi "Kehilangan"

Kehilangan

Kau tahu, semenjak asap ini pergi,
kurasa ia telah membawa rasa yang ada
Kau tahu, semenjak hujan nan indah selalu turun
ia juga turut membasahi hati ini
Menentramkan setiap kerinduan yang telah hilang

Ntahlah, apakah kau merasakan hal yang sama
tetapi, bagiku kau telah hilang
pergi bersama kepingankeindahan
pergi bersama sapuan angin dan derasnya hujan
meninggalkan sisa aroma kepedihan

seharusnya, aku memahami hal ini
seharusnya aku membawanya di awal
namun, rasa telah menutupi segalanya
membelenggu asa, dan jiwa
hingga impian yang indah
berubah sebuah kepahitan yang penuh luka

apa yang kuharap kini?
melepasmu pergi sajakah
ya, itu yang kubisa
membentengi hati agar siapapun yang tak berniat tinggal
tidak akan bisa menetap di hati ini
hingga nanti, seseorang yang siap menerima
siap mengayomi dan siap berbagi serta melindungi
datang dengan indah hanya mengharap RidhoNya...

uun, 211115
saat hujan telah sempurna pergi hari ini

Jumat, 13 November 2015

Cinta Bang Day Jilid 14 (Kepingan Puzzle)



Cinta Bang Day Jilid 14
(Kepingan Puzzle)
Aku buru-buru masuk ke dalam kamar, efek berlari dan sedikit tegang membuat jantungku berdetak tak karuan, dan ngilu di perut serta rahimku menambah sakit yang tak tertahankan, astaga segera kuhidupkan murotal dari HP, setidaknya dengan mendengarkan ayat-ayat Alqur’an ketegangan ini bisa berangsur reda, sembari aku menarik nafas perlahan, mengaturnya sebaik mungkin, dalam kondisi selemah ini aku tidak boleh ketahuan jika sedang menyelidiki sesuatu, aku harus tenang dan harus selalu kuat, aku mengambil obat yang telah dibeli bang Dayat dari klinik.
 Sebenarnya aku tidak suka minum obat, aku lebih suka minum herbal alami tanpa bahan kimia, tapi baiklah demi kesembuhan dan menyenangkan hati suami kuminum obat ini segera karena sakitnya mulai tidak tertahankan.
Setengah berbaring, sembari bersandar di tempat tidur, aku kembali melihat foto-foto album pernikahanku, memperhatikannya satu persatu, hingga akhirnya aku menemukan wajah si pelempar surat kaleng di salah satu gambar, gambar yang tidak sengaja diambil oleh adiknya bang Dayat, gambar ini tidak ada focusnya tetapi ada wajah pria itu dan beberapa orang bersamanya, sebagian sebaya bang Dayat, tetapi ada juga oarang-orang tua seumuran papa.
Aku melihat dengan seksama, raut wajahnya, dan memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Semakin dalam aku memperhatikan, semakin dalam pula aku menarik nafas pelan, dan aku jadi semakin penasaran dengan wajah ini, hingga akhirnya,  perlahan kututup laptop dan kubiarkan murotal itu tetap menyala serta mengalun indah, sembari  menerka-nerka siapa dia, alunan murotal yang menentramkan hati masuk ke relung jiwaku, aku semakin tenang dan tenang, namun tiba-tiba ada seseorang yang memanggil-manggil namaku, semakin jelas dan semakin jelas, namun aku tidak bisa menjawab suara panggilan itu, dan kini sumber suara itu mulai menyentuh kedua tanganku, aku mulai panik dan terkejut.
“Astagfirullah....”
“Hei, kamu kenapa sayang? Kamu tertidur di kamar, dan keringatan gini.., kenapa AC nya g dihidupin, dan HP udah mau lobet, kamu ngidupin murotal tapi malah ketiduran,...” Bang Day mengusap peluh yang ada di kening dan kedua pipiku.
Ya Allah ternyata aku tertidur, efek kelelahan berfikir, dan hei, tumben bang Day pulang siang ini? Iya sih, dia memang memiliki kunci rumah sendiri, tapi kenapa ya?
“Maaf Bang, tadi Me selesai minum obat jadi ketiduran..” Aku mencoba mencairkan suasana
“Iya sayang, yuk makan siang dulu, abang beli soto dan kurma kesukaan kamu, kata temen di kantor sari kurma cocok untuk memulihkan stamina, karena g nemu sari kurma yaudah abang beli kurma,,, yuk kita makan” Bang Dayat terlihat santai sekali siang ini, apa ini beneran dia, atau ini mimpiku? Sedangkan dia sudah berjalan menuju meja makan.
“Me, hei..!!! Me, kenapa termenung di sana? Masih sakit ya?” Bang Day sudah meneriakiku di ruang makan.
“Eh, iya bang, Me, wudu dulu” Setengah sadar, aku berjalan  ke kamar mandi, walau masih dalam kebingungan, sembari terus berfikir.
Kami makan berdua, aku masih kenyang dengan obat yang sudah kumakin, jadi aku hanya menemani bang Day santap siang, sembari menikmati kurma yang dibawanya, kelembutan kurma ini mampu membuatku relax, dan memberanikanku bertanya tentang pekerjaan Bang Day
“Gimana di kantor Bang? Kok bisa izin pulang?” Aku bertanya asal, dan tidak terlalu focus.
“Ada beberapa yang harus abang siapkan, proposal dan temu pimpinan, tetapi tadi abang izin, bilang kalau kamu sakit, dan g bilang sih kalau mama juga sakit, jadi pimpinan ngasih izin untuk pulang sebentar, beli makan siang dan makan bareng kamu, kan kalau makan barengan sama kamu masalah jadi hilang  dek.” Ia tersenyum lepas, aku paham tentu saja ini adalah bentuk ketenangan setelah ketegangan yang ia hadapi.
“Hmmm bang, tadi Me lihat-lihat album foto, ada beberapa orang yang belum Me kenal, Me mau nanya ma abang, kali aja abang kenal, bentar ya Me ambil notebook.” Aku bergerak cepat mengambil notebook dan membuka galeri foto.
Aku menyerahkan notebook dan melihatkan gambar itu kepada bang Day, ia memeriksanya dengan seksama.
“Kamu mau nanya yang mana Dek?” Bang Day menoleh ke arahku, kini aku mendekatkan kursi pas di sampingnya, lalu menunjukkan foto laki-laki yang kulihat tadi pagi di depan rumah.
“Oh, ini foto asistennya Qori  temen sekolah abang dulu, kan dia tinggal dekat sini, kamu kenal kok, di ujung jalan rumahnya, tetapi semenjak papa meninggal Qori dan keluarganya pindah ke luar kota, sekarang kata mama udah tinggal di sini lagi dekat rumah k Fitri tapi yah, dan abang masih sekantor sama dia, walau beda divisi, tapi masih satu perusahaan, nah yang ini ni, yang kamu tunjuk, ini asisten kepercayaannya Qori, sekalian jadi supir pribadinya dan tangan kanannya Qori, sekolahnya aja bareng ama Qori tapi dia g kuliah, cuman ngambil kursus aja, makanya Qori percaya banget sama dia, sekalian juga merangkap jadi sekeretarisnya Qori, cuman iya sich tadi abang g ngeliat dia, kayaknya lagi ada tugas di luar di suruh Qori.”
Aku mengangguk takzim, baiklah satu benang mulai terlihat warnanya, beruntung bang Day tidak bertanya alasan aku menanyakan pria itu.
“ Oiya mama gimana bang?” Tanyaku lagi
“Mama kata k Fitri udah mendingan, sekarang udah pada main sama cucunya.” Jawabnya cepat.
“bukan, bukan itu, maksud Me, kasus yang menimpa mama, siapa yang nyelesain? Abang g lapor? Perusahaan g tau bang?”
“Oh, itu udah abang serahin ke Miqdad, timnya bakal menemukan siapa yang ngelakuinnya, sepertinya tabrakan biasa aja jadi abang disuruh g usah pusing, suruh focus aja, abang percayalah sama patner kamu Me.”
Aku terkejut, maksudnya dengan Patner?
“Temen lama kamu itu ternyata advokat terkenal Me, abang aja baru tahu, orang perusahaan baru mengangkat dia untuk jadi tim advokat perusahaan, untuk menghendle beberapa masalah dan gesekan yang terjadi dengan perusahaan lainnya Me, jadi abang percayalah.”
“oh” Jawabku singkat
Baiklah bang Day tidak tahu jikalau aku masuk ke dalam timnya bang Miqdad, jika Bang Day tahu, maka ia akan khawatir hingga bisa jadi protectif.
Aku ingin sekali meminta izinnya untuk masuk ke dalam gudang file-file lama tentang papa dan pekerjaan papa, tapi aku takut, sejak awal pernikahan aku tidak pernah berani bertanya tentang masalah papa, yang kutahu papa sakit dan lama dirawat, lalu meninggal dunia, dan bang Day sedikitpun tidak bercerita, mengungkit, bahkan menceritakan awal bertemunya papa dan mama, aku masih bingung dan menerka ini semua ke mana arahnya, dan apa yang disembunyikannya, atau ada baiknya aku bertanya kepada mama saja ya?
Selama ini aku juga jarang bertanya tentang papa, biasanya mama hanya menasehatiku bagaimana menjadi istri dan bagaimana melayani suami, menjadi istri sholeha, mamapun hanya bercerita tentang ketabahannya merawat papa, aku semakin penasaran, inilah yang dinamakan hidup sebenarnya, saat aku semakin penasaran, dan ingin menyelesaikan masalah.
“Dek!”
Aku terkejut mendengar bentakannya, mungkin aku terlalu lama menerawang masalah ini hingga lupa jika ia berada di depanku, terpaksa aku hanya menyunggingkan senyuman termanisku untuknya.
“Nih coba denger ya..., abang mau berangkat lagi dan kemungkinan akan pulang malam, karna mau singgah ke rumah k Fitri jenguk mama, kamu hati-hati di rumah jangan ketiduran lagi, kalau mau ngajak uni atau siapa main ke sini juga gpp, kasian juga kamu sendiri di rumah, tapi ingat jangan ke luar rumah dulu ya, kamu masih sakit.” Tuh kan, khawatirannya datang lagi, wanita mana yang tidak suka diperhatikan seperti ini
“hmmm, kalau duduk di taman depan boleh Bang?” Bujukku
“boleh tetapi jangan kecapean atau nanam-nanam ya..., serta nyiram apapun, ingat kamu masih sakit dan abang g mau kamu drop lagi !!....” ya Allah sungguh, aku rindu perhatian ini, yang ada hanya ketika aku sakit.
Oke baiklah, tidak masalah, setidaknya aku punya waktu lebih lama untuk menemukan apa yang selama ini ia sembunyikan, dan aku memiliki waktu untuk mencari berkas-berkas dokument almarhum papa.
Sepeninggalnya aku mulai menyusun puzzle masalah ini, aku baru menemukan lelaki yang melempar batu tadi pagi, dan dia adalah asisten bang Qori, oke baiklah sebelum aku mencari info di gudang, aku akan mencari tahu tentang bang Qori, tapi kepada siapa aku bertanya, oh iya bang Miqdad, bisa jadikan mobil itu mobil yang dipakai sama asisten bang Qori, sengaja menyuruh asistennya untuk mencelakaiku dan mama, tapi apa motifnya? Apa iya dikarenakan jabatan itu? Bisa jadi sich, ah, sebaiknya jangan cepat berspekulasi.
Aku mulai chating dengan bang Miqdad menyampaikan apa yang kutemui pagi ini, berharap ia juga sudah menemukan kepingan puzzle yang lainnya.
“iya Me, masalah mobil itu belum terbaca, tetapi ini semakin menarik, karena kini hanya ada 2 calon yng bertahan mengikuti bursa naik jabatan Me, satu lagi mengundurkan diri dikarenakan ia memilih pindah ke prusahaan keluarganya yang semakin tumbuh, dan satu-satunya rival yang bertahan adalah Qori, ups abang belum tahu nama aslinya Me, hanya tau panggilannya dari suamimu arusan, bahkan abang belum berjumpa dengannya, karena abang tdk punya alasan bertemu dengannya Me.”
Aku terperanjat atas kabar yang dipaparkan bang Miqdad barusan, astaga bagaimana bisa, bang Qori yang barusan ..
Aku kembali mengetik balasan chat dengan cepat, memberi tahu bang Miqdad apa yang terjadi tadi pagi di beranda rumah, dan termasuk lelaki yang melemparkan kertas ancaman cetek itu.
“hmm, baiklah Me, ini terlihat mudah sekali, abang jadi ragu, ingat jangan terlalu berspekulasi dini Me, bisa jadi ini hanya rencana tipuan, tetapi jika ia, kita belum menemukan motifnya Me, dan Dayat juga tidak akan semudah itu percaya Me, karena Qori sahabat baiknya Me, ah bagaimana caranya membuktikannya, maaf Me, abang ada Meeting mendadak me, nanti abang kabari kamu lagi..”
Astaga, dalam keadaan darurat kenapa pula bang Miqdad bisa meeting, oke baiklah akan aku caritahu sendiri ada apa dengan bang Qori, aku baru teringat file lamanya papa dan segera beranjak menuju gudang.
Butuh waktu lama untuk menemukan kepingan puzzle yang lainnya, bahkan aku harus menshortir barang-barang lama ini, yang aku sendiripun tidak tahu ini file siapa saja, bisa jadi punya k Fitri atau mama, atau bang Day, atau sibungsu, dua jam lebih aku berusaha mencari-cari serta menyusun ulang isi ruangan kusam ini, namun yang kucari belum juga ketemu, aku mulai lelah dan terasa sedikit ngilu, kuambil posisi di sudut pintu lalu terduduk, sembari mengatur nafas dan melihat-lihat sekitar.
Handphoneku belum juga berbunyi chat dari bang Miqdad belum juga masuk, mungkin meetingnya lama, aku menghembuskan nafas perlahan, mulai tertunduk, tetiba mataku menangkap sebuah kotak yang rapi di sudut kanan ruangan, memang belum kusentuh dari tadi, aku mendekat dan menariknya keluar tumpukan-tumpukan barang yang tak terpakai.
Satu persatu aku memeriksa berkas-berkas ini, hingga akhirnya aku menemukan satu bundelan rapi yang berisi tulisan tangan, sepertinya tulisan tangan papa, aku membalik kertas itu secara cepat, setelah aku yakin dengan isinya aku memilih menutup rapi ruangan ini, memastikan semuanya sudah kembali ke posisi awalnya, dan satu file ini yang berhasil kubawa keluar, aku harus membacanya dengan tenang agar analisaku tepat.

Minggu, 01 November 2015

Bidadari Licik (uun and gank)



Bidadari Licik
(Sebuah Cerita Sore)
Kamis sore saat jam pelajaran MDA, aku memberikan tugas kepada anak-anak untuk menulis satu ayat Alqur’an yang ada di dalam buku Aqidah mereka, kebetulan semua anak-anak diwajibkan membeli buku panduan yang dijadikan acuan selama pejaran berlangsung, satu hal yang membuatku tersenyum menjelang senja ini.
Peristiwa ini dimulai dari si kembar Fahira dan Fahiza yang kembar tetapi tidak identik, wajah mereka berbeda jauh bahkan rambutnya juga beda, seringnya mereka dipanggil kakak (Fahiza) yang berambut lurus, dan uun (Fahira) yang berambut ikal.
Selama pelajaran berlangsung mereka banyak diam, dan menundukkan kepala menulis dengan khusu’ lalu beberapa saat, Zaza dan Ara yang kebetulan duduk berdua ini permisi kepadaku.
“Buk permisi ya, ke WC” Ucapnya mereka kompak
Belum sempat aku mengangguk memberikan izin, mereka sudah ngacir ke keluar kelas, dan aku yang hanya bisa menggeleng.
Sebelum menjadi guru mereka, aku sebenarnya sudah dekat dengan keluarga mereka, mereka lahir saja aku dan mamak datang ke rumah mereka, jadi sudah seperti adek-adek sendiri.
 Sepintas kuperhatikan uun yang hanya menunduk, kebetulan uun duduk bersama Cahaya, dan nih yang hebat dari uun cantik satu ini, dia g bawak buku cetak, dan tidak membawa buku tulis.
“Un, udah selesai tugasnya?” Tanyaku
“Belum Buk, bukunya dipakai Cahaya, Un g ada buku!” Balasnya
Lalu sejurus kemudian aku memperhatikan Raihan yang duduk di depan uun, Raihan sudah menyelsaikan tugasnya, sudah kuberi nilai sempurna, dan aku meminta Raihan meminjamkan buku cetaknya ke uun.
15 menit lagi bel pulang akan berbunyi, tetapi anak-anak belum juga menyelesaikan tugasnya, mereka sibuk bermain-main dengan tugas dan bercerita lepas, aku sengaja membiarkannya, Zaza dan Ara sudah kembali, entah apa yang mereka kerjakan di WC selama itu.
Dan akhirnya, keluarlah kalimat pemungkasku yang membuat adrenalin anak-anak berpacu.
“Siapa yang sudah selesai ibu perbolehkan pulang....” Kataku
“HOREEEEE” Balas anak-anak semua, dan seketika mereka menulis takzim, semua kepala mulai tertunduk focus,  bahkan satu persatu terdengar kata,
“Siap cop...”
“Pertama siap...”
“Aku duluan selesai...”
Memanglah anak-anak tidak ada yang mau mengalah, satu persatu buku dikumpulkan, dan satu persatu merekapun pulang, ooops... masih tersisa 4 bidadari mungil di sudut kanan mejaku.
“BUUUK PR aja ya BUK...” Pinta Zaza dengan muka memelas.
“Iya Buuuk, kami g ada buku...” Disambung oleh Ara
“Uni juga g ada buku Buk...” Kali ini uun ikutan melobyku
“Nah, Cahaya mau ngomomg apa?” Ucapku kepada mereka.
Cahaya hanya diam dan tersenyum simpul, hanya dialah yang paling pendiam di antara mereka berempat.
“G ada cerita PR, kerjakan sekarang!! Ibuk tunggu sampai jam 18.00!” Balasku dengan nada agak tinggi kepada mereka.
Jadilah mereka terdiam dan mulai menulis, tetapi sebenarnya aku tidak yakin jika mereka menulis, namun aku tetap menunggu mereka, hingga 15 menitpun berlalu, aku mulai goyah melihat mereka, hingga akhirnya akupun mengalah.
“Oke dijadiin PR  aja ya....” Kataku agak sedikit lemah
“YEEEEES.... HORE...” Seru mereka berbarengan
“Sebenarnya kami sengaja lama-lamain biar Ibuk nyuruh jadikan PR...” Kata Zaza enteng sambil mengemasi buku-bukunya
Akupun terkejut.
“Iya... kami mana ada nulis, kami nunggu Ibuk bilang PR...” Disusul uun angkat bicara tak kalah entengnya bahkan sambil menyalami tanganku.
“Ya Allah... kalian sengaja ya....” Ucapku sembari berlari kecil mengejar mereka ke parkiran .
Begitulah hari-hari jika bersama Uun dan kawan-kawannya, dunia terasa indah dengan kelucuan, kelicikan dan ulah mereka yang natural.

Senin, 26 Oktober 2015

Cinta Bang Day Jilid 13 (Ancaman)



Cinta Bang Day Jilid 13
(Ancaman)
Lembar kehidupanku di awal pernikahan ini terasa sangat-sangat aneh, masalah yang ada hanya berputar di situ-situ saja, hanya seputaran perasaan, prasangka, penerimaan, pemahaan dan aku belum siap dengan sejuta masa lalunya, bagitupun bang Day kepadaku, apa ia memahami semua tentang diriku. Apakah kami memang belum menemukan titik perbedaan, hingga rasanya rumahtangga ini tanpa misi yang jelas, seolah yang kujalani selama ini tanpa tahu untuk apa, bahkan masalah yang kuhadapi hanya ini-ini saja, masalah hati saja.
Maka, pagi ini saat mentari tidak lagi malu-malu menampakkan cahayanya di beranda rumah kami, rumah peninggalan almarhum papa, aku dan bang Dayat duduk menikmati segelas teh hangat dan beberapa potong roti yang ia siapkan, aku tidak dibenarkannya untuk banyak beraktivitas pagi ini, sifat khawatirnya muncul di saat aku lemah, ataupun sakit seperti ini, sifat yang sebenarnya aku rindui dan aku sukai, tetapi aku selalu bisa memandirikan diriku dari hal yang terlalu manja, karena aku takut jika suatu hari nanti ia tak di sisiku aku masih bisa bertahan. Ah terkadang entah pa yang kufikirkan, bukankah pahala besar untuknya jika ia mau menolong pekerjaan rumahtangga, dan toh tidak ada masalah karena aku masih sakit.
“Pagi ini sepertinya mama sudah bisa dibawa pulang Me, tadi malam k Fitri sms abang, katanya mama dibawa ke rumah k Fitri saja, karena abang bilang kalau kamu juga lagi sakit, tapi abang tidak bilang kamu sakit karena apa, abang hanya bilang kamu kecape’an.” Kalimat pembuka dari mulutnya pagi ini, bagiku ini kicauan yang kurindukan walau masih dengan nada datar bahkan tidak ada nuansa sayang sedikitpun, seolah masih ada sesuatu yang belun dikeluarkannya.
Aku hanya diam, menggenggam gelas yang berisi teh hangat, menerawang ke taman depan rumah, aku tak ingin membebaninya, ini keputusanku tadi malam.
“Maaf tidak bisa menemani kamu pagi ini sayang, abang harus menyelesaikan pekerjaan yang dua hari lalu terbengkalai, beruntung k Fitri mau mengurusi mama hari ini, jadi abang terpaksa ke kantor tidak menemani kamu di rumah, jangan lupa minum obat ya dek, jangan melakukan aktifitas yang berat, pastikan tubuh kamu kembali pulih dulu.” Kali ini ia menatapku, namun aku tak membalasnya tatapanku tetap lurus ke depan taman rumah, aku hanya bisa melirik dari sudut mataku saat ia menatapku dari samping.
Aku tetap diam tak bergeming, karena aku tahu sumber kekacauan ini semua adalah dari diriku sendiri, untuk apa aku membela diri di hadapannya, toh mengalah dan mematuhi perintahnya adalah tugasku kan? Sudah cukup banyak masalah yang kutimbulkan dalam hidupnya, apalagi yang bisa dipertahankan?
Ia sudah berdiri di hadapanku, aku sedikit terkejut, kuletakkan gelas di meja lalu kusalamai tangan kanannya, mencium penuh takzim berharap segala ampunan dan permohonan maaf, namun balasan tangan itu tidak hangat, bang Day melepas tangannya lalu meletakkannya di atas kepalaku mengusapnya perlahan.
Kurasa itulah kekuatan yang ia titipkan untukku, aku membalasnya dengan senyuman tipis.
“Abang berangkat ya dek, jaga diri, Aslmkm...”
Aku menjawab salamnya, lalu melepasnya pergi.
Inilah saatnya untuk kembali ke diriku yang dulu, aktifitasku yang dulu, yang memang belum diketahuinya dan kuharap bang Miqdad juga tidak memberitahukannya kepada suamiku tersayang. Aku berdiri penuh semangat, walau masih ada rasa ngilu di rahim, efek mengeluarkan banyak darah, aku terpaksa harus lebih berhati-hati lagi, memang benar kata orang, keguguran itu sakitnya melebihi sakit orang yang melahirkan jika janinnya sudah terbentuk, beruntung janinku belum terbentuk, jadi sakitnya masih sama seperti ngilu ketika datang bulan.
Aku mengambil notebook kesayanganku yang selama ini tidak kugunakan, karena bang Day memfasilitasiku komputer di rumahnya, lengkap dengan wifi dan printer untuk pekerjaanku, namun aku memiliki file-file penting di notebook kesayanganku itu, lalu kuambil android dan buku catatan penting hasil analisaku selama ini.
Jari-jariku mulai bermain di android sederhana ini, mencari contac bang Miqdad, aku yakin dia pasti tahu apa yang terjadi dengan mama, dan ini tentunya ada sesuatu yang belum selesai semenjak kepergian papa dulu, aku mencium aroma luka lama yang entahlah, mama dan keluarga ini rapi sekali menyimpannya, dan aku juga yakin kalau bang Miqdad tidak akan membohongiku, patner terbaikku itu tidak akan berani menutupi apapun dariku, termasuk perasaanya sendiri.
Sembari menunggu balasan dari bang Miqdad, aku menghidupkan notebook dan melihat beberapa file foto pernikahan kami, aku mencoba melihat siapa saja kolega yang hadir, terutama teman dan sahabat bang Day, sebagai pekerja di perusaaan yang ternama serta meneruskan pekerjaan papanya, aku yakin ia pasti memiliki gesekan dengan teman atau kolega almarhum papa, aku percaya itu.
Balasan dari bang Miqdad datang, walau pembukaannya cukup membuatku muak membacanya.
“Salam dear, akhirnya kamu kembali, tidak sangka kan, masalah seperti ini malah menimpamu, padahal selama ini kita menyelesaikan masalah dosen-dosen dan pejabat penting serta para caleg, kini masalah ini menimpamu Me, oke baiklah sekeder pembuka dan ucapan selamat datang kembali di Tim penyelesaian kasus khusus, dimana hanya Abang yang terkenal dan kamu partner yang selalu tidak ingin dikenal, hanya ingin mendapatkan pengalaman serta sensasi dalam memecahkan kasus, baiklah abang rasa kamu telah kembali, walau entah apa yang membuatmu kembali, setelah keputusan kilat yang kamu sampaikan Me,..”
Aku menghembuskan nafas berat, dalam situasi seperti ini kenapa pula Bang Miqdad khutbah yang tidak jelas, tidak bisakah ia langsung to the poit
“Oke baiklah Me, selamat sebelumnya, suami kamu akan dipromosikan naik jabatan, jadi dia memiliki waktu satu tahun ini untuk memenangkan beberapa proyek di luar negeri, menjadi leader untuk membangun anak perusahaan di sebuah Negeri yang kamu impikan, yup Germany, nah jika ia berhasil menembus target dari pimpinan perusahaan asing itu, ia akan berkantor di German selama 3 tahun dan otomatis naik jabatan, Direktur Me, astaga suamimu calon Direktur sebuah perusahaan asing, abang tidak sangka kamu pintar mencari suami Me...”
Sungguh pernyataan bang Miqdad membuatku tercekat, astaga banyak yang ia sembunyikan dariku, bahkan negara impianku juga ia sembunyikan, padahal aku sengaja memajang foto sahabat penaku yang kuliah di Berlin tepat di dinding komputer pemberian bang Day, lalu kenapa ia merahasiakannya dariku, baiklah aku menelan ludah, ini semakin menegangkan, tapi apa hubungannya dengan menabrak mama.
“Ah, apa reaksi suamimu jika ia tahu bahwa istrinya adalah tim terbaik Advokad muda terkenal ini Me, tapi baiklah ini point menegangkannya, suami kamu yang baik dan lugu itu ternyata memiliki musuh dalam selimut, ia terlalu mempercayai seseorang yang ternyata tidak menginginkan ke suksesan dari suamimu, nah, ini yang sedang abang teliti, karena abang tidak tahu siapa saja teman suamimu, baik yang suka maupun yang tidak suka dengannya, yang jelas promo jabatan itu sangat penting Me, sedang diperebutkan oleh 3 orang terbaik di perusahaan itu, dan suamimu masuk daftar padahal suamimu tidak punya dekingan, 2 calon lain memiliki ayah yang menanam saham di sana, sedangkan ayah suamimu? Hanya tinggal nama di perusahaan itu Me.”
Aku terkejut kali ini aku membalasnya cepat
“Dari mana abang tahu semua ini?”
Aku sangat tercengang dengan ini semua, serumit ini namun berhasil disimpan rapat oleh Bnag Day? Hei, dia anggap aku apa selama ini? Hanya guru biasakah, atau wanita biasa yang wajib berada di rumah tidak perlu tahu kerja dan kolega suami, jantungku berpacu semakin cepat dan amarahku hampir bergejolak, kuredakan segera dengan beristigfar banyak-banyak.
“Ayolah Me, jangan seterkejut itu, di tim kita saat ada laporan akan banyak jaringan yang bekerja Me, kau tidak akan lupa ini, dan mencari info tentang suamimu di Perusahaan asing itu perkara mudah Me, kolega abang banyak yang bekerja di sana, dan rata-rata mereka orang lama Me, bahkan kenal dengan almarhum papa suamimu dan tentu saja cerita dari suamimu sendiri ke abang, awalnya abang tidak yakin ia ingin berbagi tetapi rasa sayangnya padamu dan pada ibunya membuat ia yakin untuk menyelesaikan masalah ini dan menutupnya darimu, maka dari itu ia tidak suka kita bertemu takut jika rahasianya terbongkar, eh sudah terbongkar pagi ini kepadamu Me.”
Aku hanya mengangguk, Bang Day tidak ingin aku terlibat, namun aku jenuh dengan ini semua, aku ingin membantunya, aku ingin semuanya terbuka, tidak ada yang tertutup lagi, aku membalas pesan dari bang Miqdad
“Baiklah bang, maka langkah selanjutnya adalah?”
Tak lama bang Miqdad membalas pesanku.
“Astaga Me, kau lupa apa yang harus kau lakukan Me, apa pernikahan membuatmu lupa dengan pengalaman menangani kasus selama ini?”
Aku mulai jengkel dengan tingkah bang Miqdad, tentu aku tidak lupa, hanya saja kini gerakku terbatas, aku ini istri orang tidak bebas lagi.
“Baiklah-baiklah abang paham, karena gerakanmu terbatas maka focus mencari info tentang teman akrab suamimu yang dari dulu bersamanya Me, yang selalu menemani kemanapun ia pergi termasuk ikut kuliah bersamanya, dan lagi pastikan kamu tahu masalah Ayah mertuamu yang telah meninggal Me, mungkin ada dokument yang tersimpan dan berusaha dilupakan oleh keluarga Dayat, itu saja Me”
Baiklah aku paham ini akan kemana.
“Thanks bang Bro” Sapaan khasku kepada bang Miqdad akhirnya keluar juga.
“Ha ha kau tak lupa panggilan itu Me, baiklah jaga dirimu Me, kasus ini tentang keluargamu bukan orang lain, bisa jadi orang dekat telah berkhianat, atau masa lalu yang masih menyimpan dendam Me, abang akan meeting bersama kru yang lainnya”
Baiklah aku paham bang, tentu saja aku paham, ini akan lebih berbahaya karena ini kasus keluargaku tepatnya keluarga suamiku.
Aku membereskan catatanku, menutup notebookku dan beranjak dari tempat tidur menuju gudang, tempat file-file almarhum papa tersimpan, saat aku mulai berdiri sekilaas ada yang terlihat dari jendela kamar, aku mencoba mengintipnya.
Seseorang yang tidak kukenal, ia berjalan pelan di depan pagar rumah kami, pelan-pelan ia menoleh ke arah rumah, memperhatikan setiap sudut, beruntung kaca jendela kamar kami tidak tembus bayang dari luar tetapi dari dalam, jadi aku bebas melihat gerak-geriknya, lelaki itu telah pergi dan akupun ingin melangkah, namun kulihat lagi ia berbalik arah, kembali memperhatikan rumah ini, aku semakin curiga dan dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya, teringat kata-kata bang Miqdad.
“Hati-hati Me, biasa jadi orang dekat yang menyimpan dendam cukup lama”
Saat suasana ini semakin tegang, terdengar bunyi lemparan sesuatu, mengenai jendela di beranda depan, setengah berlari sembari merampas jilbab yang tergantung di dinding kamar, aku membuka pintu depan dengan cepat
“HEI....” Teriakku kuat.
Yang kuteriaki telah lari, meloncak ke sepeda motor di ujung jalan yang ternyata sudah menunggunya, setidaknya aku sempat melihat wajah lelaki itu.
Aku geram, dan kuambil sesuatu yang telah mereka lempar, kulihat ada secarik kertas yang bertuliskan sesuatu, astaga cara mereka jadul sekali menggunakan surat kaleng, dan melihat maksud tulisan itu aku terkejut dan marah, kuremas kertas itu sekuat tenaga.
“Nantikan jawabannya wahai penakut.” Gumamku sendiri sembari menahan kesal.