Kehilangan
Kau tahu, semenjak asap ini pergi,
kurasa ia telah membawa rasa yang ada
Kau tahu, semenjak hujan nan indah selalu turun
ia juga turut membasahi hati ini
Menentramkan setiap kerinduan yang telah hilang
Ntahlah, apakah kau merasakan hal yang sama
tetapi, bagiku kau telah hilang
pergi bersama kepingankeindahan
pergi bersama sapuan angin dan derasnya hujan
meninggalkan sisa aroma kepedihan
seharusnya, aku memahami hal ini
seharusnya aku membawanya di awal
namun, rasa telah menutupi segalanya
membelenggu asa, dan jiwa
hingga impian yang indah
berubah sebuah kepahitan yang penuh luka
apa yang kuharap kini?
melepasmu pergi sajakah
ya, itu yang kubisa
membentengi hati agar siapapun yang tak berniat tinggal
tidak akan bisa menetap di hati ini
hingga nanti, seseorang yang siap menerima
siap mengayomi dan siap berbagi serta melindungi
datang dengan indah hanya mengharap RidhoNya...
uun, 211115
saat hujan telah sempurna pergi hari ini
"Kalau kamu bukan anak Raja dan bukan anak Ulama, maka Menulislah" semangat bersama keluarga OWOP.
Sabtu, 21 November 2015
Jumat, 13 November 2015
Cinta Bang Day Jilid 14 (Kepingan Puzzle)
Cinta Bang Day Jilid 14
(Kepingan Puzzle)
Aku
buru-buru masuk ke dalam kamar, efek berlari dan sedikit tegang membuat
jantungku berdetak tak karuan, dan ngilu di perut serta rahimku menambah sakit
yang tak tertahankan, astaga segera kuhidupkan murotal dari HP, setidaknya
dengan mendengarkan ayat-ayat Alqur’an ketegangan ini bisa berangsur reda,
sembari aku menarik nafas perlahan, mengaturnya sebaik mungkin, dalam kondisi
selemah ini aku tidak boleh ketahuan jika sedang menyelidiki sesuatu, aku harus
tenang dan harus selalu kuat, aku mengambil obat yang telah dibeli bang Dayat
dari klinik.
Sebenarnya aku tidak suka minum obat, aku
lebih suka minum herbal alami tanpa bahan kimia, tapi baiklah demi kesembuhan
dan menyenangkan hati suami kuminum obat ini segera karena sakitnya mulai tidak
tertahankan.
Setengah
berbaring, sembari bersandar di tempat tidur, aku kembali melihat foto-foto
album pernikahanku, memperhatikannya satu persatu, hingga akhirnya aku menemukan
wajah si pelempar surat kaleng di salah satu gambar, gambar yang tidak sengaja
diambil oleh adiknya bang Dayat, gambar ini tidak ada focusnya tetapi ada wajah
pria itu dan beberapa orang bersamanya, sebagian sebaya bang Dayat, tetapi ada
juga oarang-orang tua seumuran papa.
Aku
melihat dengan seksama, raut wajahnya, dan memperhatikan orang-orang di
sekelilingnya. Semakin dalam aku memperhatikan, semakin dalam pula aku menarik
nafas pelan, dan aku jadi semakin penasaran dengan wajah ini, hingga akhirnya, perlahan kututup laptop dan kubiarkan murotal itu
tetap menyala serta mengalun indah, sembari menerka-nerka siapa dia, alunan murotal yang
menentramkan hati masuk ke relung jiwaku, aku semakin tenang dan tenang, namun
tiba-tiba ada seseorang yang memanggil-manggil namaku, semakin jelas dan
semakin jelas, namun aku tidak bisa menjawab suara panggilan itu, dan kini
sumber suara itu mulai menyentuh kedua tanganku, aku mulai panik dan terkejut.
“Astagfirullah....”
“Hei, kamu kenapa sayang? Kamu
tertidur di kamar, dan keringatan gini.., kenapa AC nya g dihidupin, dan HP
udah mau lobet, kamu ngidupin murotal tapi malah ketiduran,...”
Bang Day mengusap peluh yang ada di kening dan kedua pipiku.
Ya
Allah ternyata aku tertidur, efek kelelahan berfikir, dan hei, tumben bang Day
pulang siang ini? Iya sih, dia memang memiliki kunci rumah sendiri, tapi kenapa
ya?
“Maaf Bang, tadi Me selesai minum
obat jadi ketiduran..” Aku mencoba mencairkan suasana
“Iya sayang, yuk makan siang dulu,
abang beli soto dan kurma kesukaan kamu, kata temen di kantor sari kurma cocok
untuk memulihkan stamina, karena g nemu sari kurma yaudah abang beli kurma,,,
yuk kita makan” Bang Dayat terlihat santai sekali siang
ini, apa ini beneran dia, atau ini mimpiku? Sedangkan dia sudah berjalan menuju
meja makan.
“Me, hei..!!! Me, kenapa termenung
di sana? Masih sakit ya?” Bang Day sudah meneriakiku di
ruang makan.
“Eh, iya bang, Me, wudu dulu”
Setengah sadar, aku berjalan ke kamar
mandi, walau masih dalam kebingungan, sembari terus berfikir.
Kami
makan berdua, aku masih kenyang dengan obat yang sudah kumakin, jadi aku hanya
menemani bang Day santap siang, sembari menikmati kurma yang dibawanya, kelembutan
kurma ini mampu membuatku relax, dan memberanikanku bertanya tentang pekerjaan
Bang Day
“Gimana di kantor Bang? Kok bisa
izin pulang?” Aku bertanya asal, dan tidak terlalu
focus.
“Ada beberapa yang harus abang
siapkan, proposal dan temu pimpinan, tetapi tadi abang izin, bilang kalau kamu
sakit, dan g bilang sih kalau mama juga sakit, jadi pimpinan ngasih izin untuk
pulang sebentar, beli makan siang dan makan bareng kamu, kan kalau makan
barengan sama kamu masalah jadi hilang dek.” Ia tersenyum lepas,
aku paham tentu saja ini adalah bentuk ketenangan setelah ketegangan yang ia
hadapi.
“Hmmm bang, tadi Me lihat-lihat
album foto, ada beberapa orang yang belum Me kenal, Me mau nanya ma abang, kali
aja abang kenal, bentar ya Me ambil notebook.”
Aku bergerak cepat mengambil notebook dan membuka galeri foto.
Aku
menyerahkan notebook dan melihatkan gambar itu kepada bang Day, ia memeriksanya
dengan seksama.
“Kamu mau nanya yang mana Dek?”
Bang Day menoleh ke arahku, kini aku mendekatkan kursi pas di sampingnya, lalu
menunjukkan foto laki-laki yang kulihat tadi pagi di depan rumah.
“Oh, ini foto asistennya Qori temen sekolah abang dulu, kan dia tinggal
dekat sini, kamu kenal kok, di ujung jalan rumahnya, tetapi semenjak papa
meninggal Qori dan keluarganya pindah ke luar kota, sekarang kata mama udah
tinggal di sini lagi dekat rumah k Fitri tapi yah, dan abang masih sekantor
sama dia, walau beda divisi, tapi masih satu perusahaan, nah yang ini ni, yang
kamu tunjuk, ini asisten kepercayaannya Qori, sekalian jadi supir pribadinya
dan tangan kanannya Qori, sekolahnya aja bareng ama Qori tapi dia g kuliah,
cuman ngambil kursus aja, makanya Qori percaya banget sama dia, sekalian juga
merangkap jadi sekeretarisnya Qori, cuman iya sich tadi abang g ngeliat dia,
kayaknya lagi ada tugas di luar di suruh Qori.”
Aku
mengangguk takzim, baiklah satu benang mulai terlihat warnanya, beruntung bang
Day tidak bertanya alasan aku menanyakan pria itu.
“ Oiya mama gimana bang?”
Tanyaku lagi
“Mama kata k Fitri udah mendingan,
sekarang udah pada main sama cucunya.” Jawabnya cepat.
“bukan, bukan itu, maksud Me, kasus
yang menimpa mama, siapa yang nyelesain? Abang g lapor? Perusahaan g tau bang?”
“Oh, itu udah abang serahin ke
Miqdad, timnya bakal menemukan siapa yang ngelakuinnya, sepertinya tabrakan
biasa aja jadi abang disuruh g usah pusing, suruh focus aja, abang percayalah
sama patner kamu Me.”
Aku
terkejut, maksudnya dengan Patner?
“Temen lama kamu itu ternyata
advokat terkenal Me, abang aja baru tahu, orang perusahaan baru mengangkat dia
untuk jadi tim advokat perusahaan, untuk menghendle beberapa masalah dan
gesekan yang terjadi dengan perusahaan lainnya Me, jadi abang percayalah.”
“oh”
Jawabku singkat
Baiklah
bang Day tidak tahu jikalau aku masuk ke dalam timnya bang Miqdad, jika Bang
Day tahu, maka ia akan khawatir hingga bisa jadi protectif.
Aku
ingin sekali meminta izinnya untuk masuk ke dalam gudang file-file lama tentang
papa dan pekerjaan papa, tapi aku takut, sejak awal pernikahan aku tidak pernah
berani bertanya tentang masalah papa, yang kutahu papa sakit dan lama dirawat,
lalu meninggal dunia, dan bang Day sedikitpun tidak bercerita, mengungkit,
bahkan menceritakan awal bertemunya papa dan mama, aku masih bingung dan
menerka ini semua ke mana arahnya, dan apa yang disembunyikannya, atau ada
baiknya aku bertanya kepada mama saja ya?
Selama
ini aku juga jarang bertanya tentang papa, biasanya mama hanya menasehatiku
bagaimana menjadi istri dan bagaimana melayani suami, menjadi istri sholeha,
mamapun hanya bercerita tentang ketabahannya merawat papa, aku semakin
penasaran, inilah yang dinamakan hidup sebenarnya, saat aku semakin penasaran,
dan ingin menyelesaikan masalah.
“Dek!”
Aku
terkejut mendengar bentakannya, mungkin aku terlalu lama menerawang masalah ini
hingga lupa jika ia berada di depanku, terpaksa aku hanya menyunggingkan
senyuman termanisku untuknya.
“Nih coba denger ya..., abang mau
berangkat lagi dan kemungkinan akan pulang malam, karna mau singgah ke rumah k
Fitri jenguk mama, kamu hati-hati di rumah jangan ketiduran lagi, kalau mau
ngajak uni atau siapa main ke sini juga gpp, kasian juga kamu sendiri di rumah,
tapi ingat jangan ke luar rumah dulu ya, kamu masih sakit.”
Tuh kan, khawatirannya datang lagi, wanita mana yang tidak suka diperhatikan
seperti ini
“hmmm, kalau duduk di taman depan
boleh Bang?” Bujukku
“boleh tetapi jangan kecapean atau
nanam-nanam ya..., serta nyiram apapun, ingat kamu masih sakit dan abang g mau
kamu drop lagi !!....” ya Allah sungguh, aku rindu
perhatian ini, yang ada hanya ketika aku sakit.
Oke
baiklah, tidak masalah, setidaknya aku punya waktu lebih lama untuk menemukan
apa yang selama ini ia sembunyikan, dan aku memiliki waktu untuk mencari
berkas-berkas dokument almarhum papa.
Sepeninggalnya
aku mulai menyusun puzzle masalah ini, aku baru menemukan lelaki yang melempar
batu tadi pagi, dan dia adalah asisten bang Qori, oke baiklah sebelum aku
mencari info di gudang, aku akan mencari tahu tentang bang Qori, tapi kepada
siapa aku bertanya, oh iya bang Miqdad, bisa jadikan mobil itu mobil yang
dipakai sama asisten bang Qori, sengaja menyuruh asistennya untuk mencelakaiku
dan mama, tapi apa motifnya? Apa iya dikarenakan jabatan itu? Bisa jadi sich,
ah, sebaiknya jangan cepat berspekulasi.
Aku
mulai chating dengan bang Miqdad menyampaikan apa yang kutemui pagi ini,
berharap ia juga sudah menemukan kepingan puzzle yang lainnya.
“iya Me, masalah mobil itu belum terbaca,
tetapi ini semakin menarik, karena kini hanya ada 2 calon yng bertahan
mengikuti bursa naik jabatan Me, satu lagi mengundurkan diri dikarenakan ia
memilih pindah ke prusahaan keluarganya yang semakin tumbuh, dan satu-satunya
rival yang bertahan adalah Qori, ups abang belum tahu nama aslinya Me, hanya
tau panggilannya dari suamimu arusan, bahkan abang belum berjumpa dengannya,
karena abang tdk punya alasan bertemu dengannya Me.”
Aku
terperanjat atas kabar yang dipaparkan bang Miqdad barusan, astaga bagaimana
bisa, bang Qori yang barusan ..
Aku
kembali mengetik balasan chat dengan cepat, memberi tahu bang Miqdad apa yang
terjadi tadi pagi di beranda rumah, dan termasuk lelaki yang melemparkan kertas
ancaman cetek itu.
“hmm, baiklah Me, ini terlihat mudah
sekali, abang jadi ragu, ingat jangan terlalu berspekulasi dini Me, bisa jadi
ini hanya rencana tipuan, tetapi jika ia, kita belum menemukan motifnya Me, dan
Dayat juga tidak akan semudah itu percaya Me, karena Qori sahabat baiknya Me,
ah bagaimana caranya membuktikannya, maaf Me, abang ada Meeting mendadak me,
nanti abang kabari kamu lagi..”
Astaga,
dalam keadaan darurat kenapa pula bang Miqdad bisa meeting, oke baiklah akan
aku caritahu sendiri ada apa dengan bang Qori, aku baru teringat file lamanya
papa dan segera beranjak menuju gudang.
Butuh
waktu lama untuk menemukan kepingan puzzle yang lainnya, bahkan aku harus
menshortir barang-barang lama ini, yang aku sendiripun tidak tahu ini file
siapa saja, bisa jadi punya k Fitri atau mama, atau bang Day, atau sibungsu,
dua jam lebih aku berusaha mencari-cari serta menyusun ulang isi ruangan kusam
ini, namun yang kucari belum juga ketemu, aku mulai lelah dan terasa sedikit
ngilu, kuambil posisi di sudut pintu lalu terduduk, sembari mengatur nafas dan
melihat-lihat sekitar.
Handphoneku
belum juga berbunyi chat dari bang Miqdad belum juga masuk, mungkin meetingnya
lama, aku menghembuskan nafas perlahan, mulai tertunduk, tetiba mataku
menangkap sebuah kotak yang rapi di sudut kanan ruangan, memang belum kusentuh
dari tadi, aku mendekat dan menariknya keluar tumpukan-tumpukan barang yang tak
terpakai.
Satu
persatu aku memeriksa berkas-berkas ini, hingga akhirnya aku menemukan satu
bundelan rapi yang berisi tulisan tangan, sepertinya tulisan tangan papa, aku
membalik kertas itu secara cepat, setelah aku yakin dengan isinya aku memilih
menutup rapi ruangan ini, memastikan semuanya sudah kembali ke posisi awalnya,
dan satu file ini yang berhasil kubawa keluar, aku harus membacanya dengan
tenang agar analisaku tepat.
Minggu, 01 November 2015
Bidadari Licik (uun and gank)
Bidadari
Licik
(Sebuah
Cerita Sore)
Kamis
sore saat jam pelajaran MDA, aku memberikan tugas kepada anak-anak untuk
menulis satu ayat Alqur’an yang ada di dalam buku Aqidah mereka, kebetulan
semua anak-anak diwajibkan membeli buku panduan yang dijadikan acuan selama
pejaran berlangsung, satu hal yang membuatku tersenyum menjelang senja ini.
Peristiwa
ini dimulai dari si kembar Fahira dan Fahiza yang kembar tetapi tidak identik,
wajah mereka berbeda jauh bahkan rambutnya juga beda, seringnya mereka dipanggil
kakak (Fahiza) yang berambut lurus, dan uun (Fahira) yang berambut ikal.
Selama
pelajaran berlangsung mereka banyak diam, dan menundukkan kepala menulis dengan
khusu’ lalu beberapa saat, Zaza dan Ara yang kebetulan duduk berdua ini permisi
kepadaku.
“Buk permisi ya, ke WC”
Ucapnya mereka kompak
Belum
sempat aku mengangguk memberikan izin, mereka sudah ngacir ke keluar kelas, dan
aku yang hanya bisa menggeleng.
Sebelum
menjadi guru mereka, aku sebenarnya sudah dekat dengan keluarga mereka, mereka
lahir saja aku dan mamak datang ke rumah mereka, jadi sudah seperti adek-adek
sendiri.
Sepintas kuperhatikan uun yang hanya menunduk,
kebetulan uun duduk bersama Cahaya, dan nih yang hebat dari uun cantik satu
ini, dia g bawak buku cetak, dan tidak membawa buku tulis.
“Un, udah selesai tugasnya?”
Tanyaku
“Belum Buk, bukunya dipakai Cahaya,
Un g ada buku!” Balasnya
Lalu
sejurus kemudian aku memperhatikan Raihan yang duduk di depan uun, Raihan sudah
menyelsaikan tugasnya, sudah kuberi nilai sempurna, dan aku meminta Raihan
meminjamkan buku cetaknya ke uun.
15
menit lagi bel pulang akan berbunyi, tetapi anak-anak belum juga menyelesaikan
tugasnya, mereka sibuk bermain-main dengan tugas dan bercerita lepas, aku
sengaja membiarkannya, Zaza dan Ara sudah kembali, entah apa yang mereka
kerjakan di WC selama itu.
Dan
akhirnya, keluarlah kalimat pemungkasku yang membuat adrenalin anak-anak
berpacu.
“Siapa yang sudah selesai ibu
perbolehkan pulang....” Kataku
“HOREEEEE”
Balas anak-anak semua, dan seketika mereka menulis takzim, semua kepala mulai
tertunduk focus, bahkan satu persatu
terdengar kata,
“Siap cop...”
“Pertama siap...”
“Aku duluan selesai...”
Memanglah
anak-anak tidak ada yang mau mengalah, satu persatu buku dikumpulkan, dan satu
persatu merekapun pulang, ooops... masih tersisa 4 bidadari mungil di sudut
kanan mejaku.
“BUUUK PR aja ya BUK...”
Pinta Zaza dengan muka memelas.
“Iya Buuuk, kami g ada buku...”
Disambung oleh Ara
“Uni juga g ada buku Buk...”
Kali ini uun ikutan melobyku
“Nah, Cahaya mau ngomomg apa?”
Ucapku kepada mereka.
Cahaya
hanya diam dan tersenyum simpul, hanya dialah yang paling pendiam di antara
mereka berempat.
“G ada cerita PR, kerjakan
sekarang!! Ibuk tunggu sampai jam 18.00!” Balasku dengan
nada agak tinggi kepada mereka.
Jadilah
mereka terdiam dan mulai menulis, tetapi sebenarnya aku tidak yakin jika mereka
menulis, namun aku tetap menunggu mereka, hingga 15 menitpun berlalu, aku mulai
goyah melihat mereka, hingga akhirnya akupun mengalah.
“Oke dijadiin PR aja ya....” Kataku agak
sedikit lemah
“YEEEEES.... HORE...”
Seru mereka berbarengan
“Sebenarnya kami sengaja
lama-lamain biar Ibuk nyuruh jadikan PR...” Kata Zaza
enteng sambil mengemasi buku-bukunya
Akupun
terkejut.
“Iya... kami mana ada nulis, kami
nunggu Ibuk bilang PR...” Disusul uun angkat bicara tak
kalah entengnya bahkan sambil menyalami tanganku.
“Ya Allah... kalian sengaja ya....”
Ucapku sembari berlari kecil mengejar mereka ke parkiran .
Begitulah
hari-hari jika bersama Uun dan kawan-kawannya, dunia terasa indah dengan
kelucuan, kelicikan dan ulah mereka yang natural.
Senin, 26 Oktober 2015
Cinta Bang Day Jilid 13 (Ancaman)
Cinta
Bang Day Jilid 13
(Ancaman)
Lembar
kehidupanku di awal pernikahan ini terasa sangat-sangat aneh, masalah yang ada
hanya berputar di situ-situ saja, hanya seputaran perasaan, prasangka, penerimaan,
pemahaan dan aku belum siap dengan sejuta masa lalunya, bagitupun bang Day
kepadaku, apa ia memahami semua tentang diriku. Apakah kami memang belum
menemukan titik perbedaan, hingga rasanya rumahtangga ini tanpa misi yang
jelas, seolah yang kujalani selama ini tanpa tahu untuk apa, bahkan masalah
yang kuhadapi hanya ini-ini saja, masalah hati saja.
Maka,
pagi ini saat mentari tidak lagi malu-malu menampakkan cahayanya di beranda
rumah kami, rumah peninggalan almarhum papa, aku dan bang Dayat duduk menikmati
segelas teh hangat dan beberapa potong roti yang ia siapkan, aku tidak
dibenarkannya untuk banyak beraktivitas pagi ini, sifat khawatirnya muncul di
saat aku lemah, ataupun sakit seperti ini, sifat yang sebenarnya aku rindui dan
aku sukai, tetapi aku selalu bisa memandirikan diriku dari hal yang terlalu
manja, karena aku takut jika suatu hari nanti ia tak di sisiku aku masih bisa
bertahan. Ah terkadang entah pa yang kufikirkan, bukankah pahala besar untuknya
jika ia mau menolong pekerjaan rumahtangga, dan toh tidak ada masalah karena
aku masih sakit.
“Pagi ini sepertinya mama sudah
bisa dibawa pulang Me, tadi malam k Fitri sms abang, katanya mama dibawa ke
rumah k Fitri saja, karena abang bilang kalau kamu juga lagi sakit, tapi abang
tidak bilang kamu sakit karena apa, abang hanya bilang kamu kecape’an.”
Kalimat pembuka dari mulutnya pagi ini, bagiku ini kicauan yang kurindukan
walau masih dengan nada datar bahkan tidak ada nuansa sayang sedikitpun, seolah
masih ada sesuatu yang belun dikeluarkannya.
Aku
hanya diam, menggenggam gelas yang berisi teh hangat, menerawang ke taman depan
rumah, aku tak ingin membebaninya, ini keputusanku tadi malam.
“Maaf tidak bisa menemani kamu pagi
ini sayang, abang harus menyelesaikan pekerjaan yang dua hari lalu
terbengkalai, beruntung k Fitri mau mengurusi mama hari ini, jadi abang
terpaksa ke kantor tidak menemani kamu di rumah, jangan lupa minum obat ya dek,
jangan melakukan aktifitas yang berat, pastikan tubuh kamu kembali pulih dulu.”
Kali ini ia menatapku, namun aku tak membalasnya tatapanku tetap lurus ke depan
taman rumah, aku hanya bisa melirik dari sudut mataku saat ia menatapku dari
samping.
Aku
tetap diam tak bergeming, karena aku tahu sumber kekacauan ini semua adalah
dari diriku sendiri, untuk apa aku membela diri di hadapannya, toh mengalah dan
mematuhi perintahnya adalah tugasku kan? Sudah cukup banyak masalah yang
kutimbulkan dalam hidupnya, apalagi yang bisa dipertahankan?
Ia
sudah berdiri di hadapanku, aku sedikit terkejut, kuletakkan gelas di meja lalu
kusalamai tangan kanannya, mencium penuh takzim berharap segala ampunan dan
permohonan maaf, namun balasan tangan itu tidak hangat, bang Day melepas tangannya
lalu meletakkannya di atas kepalaku mengusapnya perlahan.
Kurasa
itulah kekuatan yang ia titipkan untukku, aku membalasnya dengan senyuman
tipis.
“Abang berangkat ya dek, jaga diri,
Aslmkm...”
Aku
menjawab salamnya, lalu melepasnya pergi.
Inilah
saatnya untuk kembali ke diriku yang dulu, aktifitasku yang dulu, yang memang
belum diketahuinya dan kuharap bang Miqdad juga tidak memberitahukannya kepada
suamiku tersayang. Aku berdiri penuh semangat, walau masih ada rasa ngilu di
rahim, efek mengeluarkan banyak darah, aku terpaksa harus lebih berhati-hati
lagi, memang benar kata orang, keguguran itu sakitnya melebihi sakit orang yang
melahirkan jika janinnya sudah terbentuk, beruntung janinku belum terbentuk,
jadi sakitnya masih sama seperti ngilu ketika datang bulan.
Aku
mengambil notebook kesayanganku yang selama ini tidak kugunakan, karena bang
Day memfasilitasiku komputer di rumahnya, lengkap dengan wifi dan printer untuk
pekerjaanku, namun aku memiliki file-file penting di notebook kesayanganku itu,
lalu kuambil android dan buku catatan penting hasil analisaku selama ini.
Jari-jariku
mulai bermain di android sederhana ini, mencari contac bang Miqdad, aku yakin
dia pasti tahu apa yang terjadi dengan mama, dan ini tentunya ada sesuatu yang
belum selesai semenjak kepergian papa dulu, aku mencium aroma luka lama yang
entahlah, mama dan keluarga ini rapi sekali menyimpannya, dan aku juga yakin
kalau bang Miqdad tidak akan membohongiku, patner terbaikku itu tidak akan
berani menutupi apapun dariku, termasuk perasaanya sendiri.
Sembari
menunggu balasan dari bang Miqdad, aku menghidupkan notebook dan melihat
beberapa file foto pernikahan kami, aku mencoba melihat siapa saja kolega yang
hadir, terutama teman dan sahabat bang Day, sebagai pekerja di perusaaan yang
ternama serta meneruskan pekerjaan papanya, aku yakin ia pasti memiliki gesekan
dengan teman atau kolega almarhum papa, aku percaya itu.
Balasan
dari bang Miqdad datang, walau pembukaannya cukup membuatku muak membacanya.
“Salam dear, akhirnya kamu kembali,
tidak sangka kan, masalah seperti ini malah menimpamu, padahal selama ini kita
menyelesaikan masalah dosen-dosen dan pejabat penting serta para caleg, kini
masalah ini menimpamu Me, oke baiklah sekeder pembuka dan ucapan selamat datang
kembali di Tim penyelesaian kasus khusus, dimana hanya Abang yang terkenal dan
kamu partner yang selalu tidak ingin dikenal, hanya ingin mendapatkan
pengalaman serta sensasi dalam memecahkan kasus, baiklah abang rasa kamu telah
kembali, walau entah apa yang membuatmu kembali, setelah keputusan kilat yang
kamu sampaikan Me,..”
Aku
menghembuskan nafas berat, dalam situasi seperti ini kenapa pula Bang Miqdad
khutbah yang tidak jelas, tidak bisakah ia langsung to the poit
“Oke baiklah Me, selamat sebelumnya,
suami kamu akan dipromosikan naik jabatan, jadi dia memiliki waktu satu tahun
ini untuk memenangkan beberapa proyek di luar negeri, menjadi leader untuk
membangun anak perusahaan di sebuah Negeri yang kamu impikan, yup Germany, nah
jika ia berhasil menembus target dari pimpinan perusahaan asing itu, ia akan
berkantor di German selama 3 tahun dan otomatis naik jabatan, Direktur Me,
astaga suamimu calon Direktur sebuah perusahaan asing, abang tidak sangka kamu
pintar mencari suami Me...”
Sungguh
pernyataan bang Miqdad membuatku tercekat, astaga banyak yang ia sembunyikan
dariku, bahkan negara impianku juga ia sembunyikan, padahal aku sengaja
memajang foto sahabat penaku yang kuliah di Berlin tepat di dinding komputer
pemberian bang Day, lalu kenapa ia merahasiakannya dariku, baiklah aku menelan
ludah, ini semakin menegangkan, tapi apa hubungannya dengan menabrak mama.
“Ah, apa reaksi suamimu jika ia
tahu bahwa istrinya adalah tim terbaik Advokad muda terkenal ini Me, tapi
baiklah ini point menegangkannya, suami kamu yang baik dan lugu itu ternyata
memiliki musuh dalam selimut, ia terlalu mempercayai seseorang yang ternyata
tidak menginginkan ke suksesan dari suamimu, nah, ini yang sedang abang teliti,
karena abang tidak tahu siapa saja teman suamimu, baik yang suka maupun yang
tidak suka dengannya, yang jelas promo jabatan itu sangat penting Me, sedang
diperebutkan oleh 3 orang terbaik di perusahaan itu, dan suamimu masuk daftar
padahal suamimu tidak punya dekingan, 2 calon lain memiliki ayah yang menanam
saham di sana, sedangkan ayah suamimu? Hanya tinggal nama di perusahaan itu
Me.”
Aku
terkejut kali ini aku membalasnya cepat
“Dari mana abang tahu semua ini?”
Aku
sangat tercengang dengan ini semua, serumit ini namun berhasil disimpan rapat
oleh Bnag Day? Hei, dia anggap aku apa selama ini? Hanya guru biasakah, atau
wanita biasa yang wajib berada di rumah tidak perlu tahu kerja dan kolega
suami, jantungku berpacu semakin cepat dan amarahku hampir bergejolak,
kuredakan segera dengan beristigfar banyak-banyak.
“Ayolah Me, jangan seterkejut itu,
di tim kita saat ada laporan akan banyak jaringan yang bekerja Me, kau tidak
akan lupa ini, dan mencari info tentang suamimu di Perusahaan asing itu perkara
mudah Me, kolega abang banyak yang bekerja di sana, dan rata-rata mereka orang
lama Me, bahkan kenal dengan almarhum papa suamimu dan tentu saja cerita dari
suamimu sendiri ke abang, awalnya abang tidak yakin ia ingin berbagi tetapi
rasa sayangnya padamu dan pada ibunya membuat ia yakin untuk menyelesaikan
masalah ini dan menutupnya darimu, maka dari itu ia tidak suka kita bertemu
takut jika rahasianya terbongkar, eh sudah terbongkar pagi ini kepadamu Me.”
Aku
hanya mengangguk, Bang Day tidak ingin aku terlibat, namun aku jenuh dengan ini
semua, aku ingin membantunya, aku ingin semuanya terbuka, tidak ada yang
tertutup lagi, aku membalas pesan dari bang Miqdad
“Baiklah bang, maka langkah
selanjutnya adalah?”
Tak
lama bang Miqdad membalas pesanku.
“Astaga Me, kau lupa apa yang harus
kau lakukan Me, apa pernikahan membuatmu lupa dengan pengalaman menangani kasus
selama ini?”
Aku
mulai jengkel dengan tingkah bang Miqdad, tentu aku tidak lupa, hanya saja kini
gerakku terbatas, aku ini istri orang tidak bebas lagi.
“Baiklah-baiklah abang paham,
karena gerakanmu terbatas maka focus mencari info tentang teman akrab suamimu
yang dari dulu bersamanya Me, yang selalu menemani kemanapun ia pergi termasuk
ikut kuliah bersamanya, dan lagi pastikan kamu tahu masalah Ayah mertuamu yang
telah meninggal Me, mungkin ada dokument yang tersimpan dan berusaha dilupakan
oleh keluarga Dayat, itu saja Me”
Baiklah
aku paham ini akan kemana.
“Thanks bang Bro”
Sapaan khasku kepada bang Miqdad akhirnya keluar juga.
“Ha ha kau tak lupa panggilan itu
Me, baiklah jaga dirimu Me, kasus ini tentang keluargamu bukan orang lain, bisa
jadi orang dekat telah berkhianat, atau masa lalu yang masih menyimpan dendam Me,
abang akan meeting bersama kru yang lainnya”
Baiklah
aku paham bang, tentu saja aku paham, ini akan lebih berbahaya karena ini kasus
keluargaku tepatnya keluarga suamiku.
Aku
membereskan catatanku, menutup notebookku dan beranjak dari tempat tidur menuju
gudang, tempat file-file almarhum papa tersimpan, saat aku mulai berdiri sekilaas
ada yang terlihat dari jendela kamar, aku mencoba mengintipnya.
Seseorang
yang tidak kukenal, ia berjalan pelan di depan pagar rumah kami, pelan-pelan ia
menoleh ke arah rumah, memperhatikan setiap sudut, beruntung kaca jendela kamar
kami tidak tembus bayang dari luar tetapi dari dalam, jadi aku bebas melihat
gerak-geriknya, lelaki itu telah pergi dan akupun ingin melangkah, namun
kulihat lagi ia berbalik arah, kembali memperhatikan rumah ini, aku semakin
curiga dan dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya, teringat kata-kata bang
Miqdad.
“Hati-hati Me, biasa jadi orang
dekat yang menyimpan dendam cukup lama”
Saat
suasana ini semakin tegang, terdengar bunyi lemparan sesuatu, mengenai jendela
di beranda depan, setengah berlari sembari merampas jilbab yang tergantung di
dinding kamar, aku membuka pintu depan dengan cepat
“HEI....”
Teriakku kuat.
Yang
kuteriaki telah lari, meloncak ke sepeda motor di ujung jalan yang ternyata sudah
menunggunya, setidaknya aku sempat melihat wajah lelaki itu.
Aku
geram, dan kuambil sesuatu yang telah mereka lempar, kulihat ada secarik kertas
yang bertuliskan sesuatu, astaga cara mereka jadul sekali menggunakan surat
kaleng, dan melihat maksud tulisan itu aku terkejut dan marah, kuremas kertas
itu sekuat tenaga.
“Nantikan jawabannya wahai penakut.”
Gumamku sendiri sembari menahan kesal.
Langganan:
Postingan (Atom)